mukadimah iyha ulumiddin

بسم الله الرحمن الرحيم

إن فى ذالك الذكرى لمن كان له قلب (القرأن الكريم)

Pertama, aku memuji kepada Allah dengan pujian yang banyak, lagi terus menerus, walaupun pujian orang-orang yang memuji menjadi hina dihadapan keagungan Allah. Kedua, kuhaturkan Sholawat dan Salam kepada rasulnya yaitu pimpinan manusia dan seluruh para utusan dengan sholawat yang menggelora. Ketiga, aku beristikharah kepada Allah mengenai apa yang membangkitkan semangatku, yaitu mengarang kitab untuk menghidupkan ilmu-ilmua agama. Keempat, secepatnya kulepaskan suatu kebanggaan, wahai orang hina yang melampaui batas keadilan yang hidup diantara golongan para penentang yang keluar dan mengingkari diantara kedudukan atau tingkatan orang-orang yang mengingkari, lagi melupakan. Telah lepas belenggu diam dari mulutku yang membelenggu kata untuk bicara. Sementara engkau tetap bodoh dan buta dari pandangan kebenaran, disamping senantiasa membela kebatilan dan menganggap baik sesuatu kebodohan, merubah sedikit-sedikit tanda-tanda makhluk yang sudah menjadi ihtiarnya dan cenderung menjauhi tulisan ilmu agar diamalkan, dengan harapan meraih apa yang dipersembahkan kepada Allah seperti membersihkan jiwa, memperbaiki hati, mengejar sebagian yang tertinggal, yakni umur yang terserak, hanya karena menyempurnakan lubang yang tertutup dan memperhatikan sabda Shohibu As-Syar’i SAW yang telah tersampaikan, yaitu:

أشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله سبحانه بعلمه (الحديث)

“Manusia yang paling berat siksaannya di hari kiamat adalah orang ‘alim yang mana Allah tidak memberikan kemanfaatan terhadap ilmunya” Al-Hadits” Demi umurku, sesungguhnya tiada sebab untuk menyalurkan kesombongan kecuali kesombongan itu adalah penyakit yang menghinggapi sebagian besar manusia bahkan para ulama, yang cara berfikirnya sempit dan bodoh, mereka meremehkan masalah-masalah kecil yang padahal berefek besar, masalah ini sebenarnya sangatlah pelik, sementara akhirat harus dihadapi dan dunia harus ditinggalkan, sedangkan ajal sangatlah dekat, perjalanan akhirat sangatlah jauh, padahal bekal hanyalah sedikit, kekhawatiran begitu mendebarkanr, sedangkan jalan ke sana tertutup rapat. Segala ilmu dan amal tanpa didasari ikhlas karena Allah menurut pandangan yang jeli adalah tertolak, menempuh jalan akhirat penuh dengan gangguan dan rintangan, tanpa penunjuk jalan sukar dan berat untuk di lalui, adapun penunjuk jalan adalah para ulama sebagai pewaris para nabi, dan di zaman sekarang sudah jarang dijumpai , yang tertinggal hanyalah orang-orang yang mengaku-ngaku ulama padahal bukan, pada umumnya mereka terbujuk rayuan setan dan akhirnya tersesat jalan, setiap mereka senang dengan perkara instan dan kemudian memandang kema’rufan menjadi kemunkaran dan kemunkaran menjadi kema’rufan sampai ilmu agama menjadi hancur. Cahaya hidayah di muka bumi terhapus, mereka merekayasa dan membodohi sesama makhluk yang tidak mengerti kecuali fatwa yang ditetapkan dan didukung oleh para penguasa dengan dalih untuk mengatasi permasalahan umat, mereka suka membuat sensasi atau berdebat untuk mencari kemenangan dan menjatuhkan orang-orang lain yang sama-sama mencari pangkat, atau memperindah kata-kata sebagai sarana ceramah untuk menarik simpati masyarakat umum yang tidak mengetahui atau mengerti sama sekali. Ulama-ulama palsu tersebut hanya tertarik mencari barang haram dan menjaring harta duniawi.

Pembahasan:

Al-Ghazaly selaku pengarang kitab ini menguraikan, setelah membaca hamdala, salawat dan salam serta mengutarakan maksudnya dan menghilangkan ta’ajub (bangga diri). Read the rest of this entry »

Comments (1)

mukaddimah

alhamdulillah, kami hadir di hadapan anda untuk memberikan kajian yang saat ini sudah ditinggalkan banyak orang. padahal mengaji adalah kewajiban setiap orang islam sampai mati, oleh karenanya sajian kami kepada anda adalah untuk memperkaya khazanah ilmu, sebagai bekal pengamalan hidup di dunia yang yang akan kita ambil hasilnya nanti di akhirat, agar keselamatan itu dapat kita raih. tayangan ngaji kitab ala santri klasik disini hendaklah diperhatikan benar dan diikuti secara istiqomah, setidaknya seminggu sekali harus diikuti oleh siapapun yang membutuhkan setetes embun di tengah padang pasir hati, karena hati sangatlah tersiksa apabila tidak dilengkapi dengan kebutuhannya yakni ngaji. blog ini akan membahas bab per bab dari kitab ihya’ ulumiddin. blog ini diasuh oleh: Gus Imam Sibawaih Al-Mawardi, pengasuh pesantren Assalafiyah Lowoksari, Ngenep, Karangploso, Malang.

Comments (1)